Blitar – Suhu politik pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Blitar menegang dengan materi isu politik uang yang dilakukan oleh seorang pria inisial pria inisial SH yang diduga sebagai pelaku ini mengaku hendak memberikan uang Rp 50 ribu kepada 10 orang untuk memilih paslon bupati nomor urut 2, dikatakan uang tersebut dari orang yang bernama Jasin.
Jasin pemberi uang memang dulu pernah diangkat sebagai ketua PAC Partai Demokrat Kecamatan Talun. Hal ini disampaikan oleh Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Blitar Edy Masna Nurochman mengklarifikasi pemberitaan di salah satu media on line yang diketahuinya.

Kepada media ini Ketua DPC Demokrat membantah keras bila Jasin ini masih aktif dipartai bintang mercy, padahal dalam surat yang dikeluarkan oleh Ketua DPD Partai Demokrat Bayu Airlangga bahwa nama Jasin sejak tanggal 15 Maret 2020 sudah bukan sebagai ketua PAC dan sudah digantikan oleh Puguh Sulustyono.
” Memang Jasin dulunya sebagai ketua PAC Kecamatan Talun, dan surat pemberhentianya langsung dari Ketua DPD Demokrat Jawa Timur,”ungkap Masna.
Lebih lanjut Masna sapaan akrab politisi yang pernah duduk dikursi parlemen DPRD Kabupaten Blitar ini, pihaknya juga menyayangkan atas penulisan di salah satu media on line yang sudah berani menayangkan pemberitaan tentang Jasin, yang itu sudah tak aktif ini tanpa konfirmasi terlebih dahulu.
“Kalau itu perbuatan Jasin sendiri ya itu atas inisiatifnya sendiri, dan tidak ada sangkut pautnya dengan Partai Demokrat, dan perlu ditegaskan partai atau atas nama pribadi saya tidak pernah mengintruksikan mencurangi Pilbuo
P,”tandasnya.
Edy Masna lebih lanjut menekankan, dalam gelaran Pilkada kami dari partai untuk gelaran kontestasi pesta demokrasi telah membuat tim Gerakan Pemuda Peduli Demokrasi (GPPD) untuk melakukan kampanye serentak tolak hoax dan politik uang di 19 Pilkada Jatim. Karena
maraknya praktik politik uang dan hoax jelang pemilihan 9 Desember nanti yang
Deklarator sekaligus Ketua Umum GPPD adalah Risyad Fahlefi.
“Momen kontestasi seperti saat ini marak sekali reproduksi wacana dalam bentuk hoax baik di dunia maya atau dari mulut ke mulut, belum lagi hari tenang yang semestinya digunakan untuk konsolidasi tim pemenangan, dan bukan ngurusi money politik”pungkasnya. (za)










