Blitar – Sebuah persoalan yang menurut warga Blitar selatan yang masih sangat memprihatinkan adalah pembangunan infrastruktur layanan pendidikan jenjang Sekolah Lanjutan Menengah Atas (SMA) yang masih sangat minim, serta yang paling domain adalah sulitnya mendapatkan sarana air bersih terutama ketika musim kemarau, dan masalah lainya seperti air bersih, Blitar Selatan secara geografis dan demografis memang memiliki kultur tanah yang sangat berbeda dibanding dengan Blitar bagian utara yang tanah nya relative subur, sedang Blitar selatan dengan tanah perbukitan kapur sangat sulit mencari air bersih, dan jangkauan layanan kesehatan .
Menurut M.sutarto warga desa Sumberboto, pihaknya bersama perwakilan masyarakat Blitar selatan memang ingin datang kepada wakil rakyat untuk menyampaikan keinginan agar tidak terjadi kesenjagan yang berkepanjangan antara dua wilayah Blitar selatan Blitar utara, dan pihaknya minta agar hal ini segera mendapatkan penanganan yang serius.
“Kami perwakilan masyarakat Blitar selatan mengadukan nasib ribuan warga masyarakat kepada Komisi III DPRD Kabupaten Blitar melakukan audiensi dengan Kumpulan Rakyat Blitar Selatan (KRBS), kesenjangan pembangunan fisik maupun non fisik yang ada diwilayah Blitar Selatan,”ungkap Sutarto.Rabu Sore ( 07/10/20).
Dalam acara dengar pendapat dengan Komisi III DPRD Kabupaten Blitar, dipimpin Sekretaris Komisi III DPRD Kabupaten Blitar, Panoto, yang juga menghadirkan Ketua Bappeda Kabupaten Blitar Ir. Suwandito, forum Rakyat Blitar selatan ini menguraikan permasalahan yang dihadapi, minimnya pembangunan sarana pendidikan jenjang lanjutan atas selain berpengaruh pada potensi besar anak anak memilih tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang diatasnya dan memilih bekerja di ladang membantu orang tua atau ke luar negeri jadi TKI karena orang tua tidak sanggup membiayai anaknya.
“Karena sekolah lanjutan atas ini sangat jauh jarak tempuhnya hingga puluhan kilo kami orang tua sangat berat setiap hari minim untuk pembiayaan anak sekolah saja harus menyiapkan uang 30 sampai 50 ribu, ini masih baru urusan anak sekolah belum kebutuhan yang lainya,termasuk kebutuhan air bersihpun kami juga harus beli,” kata Sutarto lagi.
Sementara itu menanggapi keluhan masyarakat Blitar selatan ini Sekertaris Komisi III sangat memahami kesulitan masyarakatnya, sebagai wakil rakyat sementara sebatas mendengar audiensi tersebut,dan minta agar Pemerintah Kabupaten Blitar segera merespon terutama masalah kelangkaan air saat musim kemarau yang ini menurutnya tidak bisa ditunda tunda lagi penanganan.
‘Penanganan darurat Selama ini kami tahu upaya Bupati dengan dinas terkait dengan droping air besar besaran ke Blitar Selatan, namun menurut kami langkah tersebut masih kurang efektif dibanding ketika Pemerintah ini memberikan solusi yang baik, dengan menambah jaringan membuat sumur bor di banyak titik, dengan memetakan lokasi dengan baik titik titik mana yang ada sumber airnya,sehingga ini akan lebih bagus dalam jangka panjangnya,”kata Panoto.
Sedangkan masalah lainya yakni pembangunan insfrastruktur pendidikan dan juga masalah layanan bidang kesehatan, untuk selanjutnya, kata Panoto terkait masalah fasilitas kesehatan. Pihaknya menyadari apalagi saat ini bahwa puskesmas saat ini tidak diperkenankan memiliki fasilitas rawat inap ini akan sangat penting juga.
“Bila problem besar bagi masyarakat ini teus berjalan yang mana aksesnya jauh dari pada layanan kesehatan dari rumah sakit, layanan pendidikan. Sehingga wajar kalau masyarakat Blitar wilayah selatan menghendaki adanya fasilitas kesehatan yang memadai. Disamping itu juga terkait permasalahan air bersih, ini satu sisi memang sangat dilematis, tetapi konsekwensi pemerintah yang harus berbuat yang terbaik bagi masyarakatnya,” tandasnya.
Karena persoalan Blitar selatan sangat komplek, maka harus ada yang menjadi pembangunan skala prioritas, pembicaraan antara legeslatif bersama eksekutif, telah sepakat menangani masalah air bersih, inilah. (Jhn)










