Blitar – Upaya rebut simpatik masyarakat kabupaten Blitar, dua kandidat calon Bupati-Wakil Bupati periode 2020 -2024 Pasangan “Rido Apik” Rijanto – Marhaenis UW dari Petahana no.urut 01 melawan pasangan Rini Syarifah-Rahmad Santoso no.urut 2.
Debat yang mengambil tema Reformasi Birokrasi yang digelar di Hotel Grand Mension Kanigoro, Selasa malam (1/12/20), adalah final penyampaian visi- misi adu argumen,wawasan dan kecakapan bagi calon seorang pemimpin di kabupaten Blitar, sebab masyarakat yang cerdas akan menentukan pemimpin yang berkwalitas.

Sunguh cukup menarik diikuti debat semalam, pasangan Rido Apik dalam menjawab pertanyaan panelis serta menanggapi pertanyaan rivalnya yakni Mak Rini-Makde Rahmad. Meskipun paslon 2 tetep dengan krepekanya namun paslon ini juga tetap berupaya tampil berani, walapun materinya banyak yang kurang menyasar, seperti masalah layanan di Dispendukcapil yang dikatakan masih banyak antrean panjang.
Sementara itu dari Paslon Petahana Rijanto calon Bupati menyanggah dengan jawabannya ” Untuk layanan di Dispendukcapil dulu memang banyak atrean, tetapi sekarang sesuai Intruksi Presiden Joko Widodo, semua OPD sudah melakukan serba elektronik dan bisa langsung klik dari rumah, termasuk latanan di KPTSP, ungkap Rijanto.
Usai acara debat Rijanto ditemui para awak media ditanya soal debat terakhir pihaknya mengatakan bahwa pihaknya menyerahkan penilaian pada saat debat tadi kepada masyarakat atas hasilnya, Namun demikian saya juga punya hak untuk memberikan komentar bahwa apa yang disampaikan Paslon 2 itu semua sudah kita lakukan, beberapa tahun lalu. Dulu keluhan masyarakat soal antrian memang pernah tapi sekarang perubahannya sudah luar sangat luar biasa.
“Warga masyarakat kabupaten Blitar, dan juga rekan awak media semua bisa melihat faktanya, sekarang di Kantor Dispendukcapil, antrian panjang sudah tidak ada.Nah Paslon 2 itu ya maklum mengatakan seperti itu, dia tahu darimana? Mungkin kantor Dukcapil nya merekapun jangan jangan juga belum tahu”, paparnya
Lanjut Rijanto yang didampingi Marhaenis UW sebagai calon Wakilnya juga mengatakan, semasa dirinya menjabat Bupati Blitar, Rijanto mengaku sudah banyak melakukan reformasi birokrasi yang panjang. Dan ini masih butuh penyempurnaan, sehingga sampai kapanpun, bila masih diberi amanah akan terus dilakukannya karena memang harus demikian. Pemerintah hadir untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan sebaik-baiknya.
“Kalau mereka itu kan masih konsep dan akan, sedangkan kita sudah. E – Good Governent sudah beberapa tahun lalu. Kita sudah masuk dan menjalankan ke sistem SPBE (Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik),”ujarnya lagi
Kata Rijanto lagi, pada tahun 2018, terkait kinerjanya sudah dilakukan dan dievaluasi oleh Menpan, dengan indeks sudah 2,14. naik lagi menjadi 2,19 di tahun 2019 dengan predikat baik, yang artinya Pemkab Blitar sudah di atas rata-rata tingkat Nasional.
“Contoh lagi kami sudah E-Musrenbang, yang terkoneksi antara Desa dengan Kabupaten. E-Budgeting yang terintegrasi, E-Laporan cukup 15 menit tidak perlu lembur. Jika ada masyarakat yang mengeluh, ada pengaduan, cukup dengan E-Sambat, opo gak wes Apik to mas Rido melayani masyarakat,” imbuhnya.
Ditanya soal Politik uang, dirinya meminta kepada masyarakat agar dalam memilih calon pemimpin jangan karena uang tetapi melihat kinerjanya, track record, latar belakang pribadi dan sebagainya.
Jangan permasalahan yang sudah 10 tahun lalu diungkit-ungkit padahal sudah banyak yang berubah.
Sementara itu Marhenis dalam debat yang juga menyindir lawannya karena hanya membaca notebook, Rijanto juga sangat menghargai atas upaya yang dilakukan Paslon sebelah.
“Kami Paslon 01 bukan tidak setuju dengan membaca, tapi dengan hanya membaca ketika ditanya dan memberikan tanggapan bisa tidak sesuai fakta dan tidak nyambung,” pungkasnya.
Sementara Paslon 02 Mak Rini, Makde Rahmad ketika akan diwawancarai para awak media terkesan enggan dan keburu memasuki mobil. (za)










