Blitar – Ini berdasarkan data dari pusat informasi serta hasil riset Institut Teknologi Bandung (ITB) mengenai potensi tsunami di sepanjang pantai selatan Jawa Timur, serta sumber data dari BPBD, yang menyebutkan ada 9 titik daerah kabupaten/kota berpotensi terkena dampaknya termasuk Kabupaten Blitar terdiri dari 4 kecamatan dan belasan desa.

Kepala BPBD Kabupaten Blitar mengatakan berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Blitar ada 4 yang termasuk rawan atau berpotensi adanya bencana tsunami yaitu Kecamatan Wonotirto, Panggungrejo, Wates dan Bakung.

“Jadi Kabupaten Blitar ada 4 kecematan berpotensi tsunami karena berada di pesisir selatan Kabupaten Blitar,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Blitar, Achmad Cholik, (29/09/20).

Lebih lanjut Cholik menjelaskan dari 4 kecamatan tersebut, ada 5 pantai yang terdapat daerah perkampungan warga, seperti di Pantai Jolosutro, Pantai Serang, Pantai Tambakrejo, Pantai Pasur dan Pantai Pangi.

“Jumlah desanya mencapai belasan, sejak adanya info potensi bencana tsunami langsung kita himbau meningkatkan kesiapsiagaan jika terjadi bencana,” katanya.

Pemetaanya lanjut Cholik yang juga mantan Kabag Humas Kabupaten Blitar ini, yaitu Kecamatan Wates ada desa Ringinrejo, Tugurejo, Tulungrejo dan kawasan Jolosutro, berikutnya di Kecamatan Panggungrejo ada desa Sumbersih dan Serang.

Daerah berikutnya seperti Kecamatan Wonotirto berpotensi tsunami adalah desa Gunung Gede, Ngadipuro dan Pasiraman, serta Kecamatan Bakung ada di desa Plandirejo, Tumpak Oyot, Bululawang dan Sidomulyo.

“Kesemuanya ini empat kecamatan berada di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang menajam ke bawah Lempeng Eurasia. Posisi ini merupakan penggerak gempa kuat, sehingga wilayah di selatan Jawa disebut kawasan rawan gempa dan tsunami.

Lebih lanjut Cholik menyampaikan, saat ini BPBD selain melakukan himbauan kepada warga desa, yang termasuk potensi terdampak bencana tsunami. Juga melakukan pemeriksaan alat Early Warning Sistem (EWS) yang terpasang di 2 lokasi, Pantai Jolosutro Kecamatan Wates dan Pantai Tambakrejo di Kecamatan Wonotirto.

“Yang merupakan perbatasan timur pesisir selatan Kabupaten Blitar, serta batas sisi barat pesisir selatan dengan wilayah Kabupaten Tulungagung. Guna memastikan alat dalam kondisi baik, serta berfungsi dengan normal ketika potensi bencana tsunami terjadi,” ungkapnya.

Ditambahkan Cholik alat EWS yang terpasang, juga dilengkapi sirine. Sehingga jika sirine berbunyi, maka warga yang tinggal di sepanjang pesisir selatan Blitar akan langsung melakukan koordinasi. Dimana tiap desa telah ditentukan skema dan jalur evakuasinya.

“Desa – desa yang dekat pantai sudah membentuk Desa Tangguh Bencana dan punya Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB), mereka yang kita himbau dan ajak untuk selalu meningkatkan kesiapsiagaan bencana,” imbuhnya.(za)